Kita sering mengira perusahaan besar dibangun oleh modal, strategi, teknologi, dan sistem.
Peradaban pun sering kita kira lahir dari kekuasaan, ilmu pengetahuan, teknologi, atau institusi.
Tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar:
Semuanya dimulai dari manusia.
Manusia menciptakan nilai.
Manusia membangun organisasi.
Manusia membuat hukum.
Manusia menciptakan teknologi.
Manusia membangun perusahaan.
Dan manusia pula yang dapat menghancurkan semuanya.
Karena itu, sebelum bertanya “sistem seperti apa yang harus kita bangun?”, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
“Manusia seperti apa yang sedang membangun sistem itu?”
Manusia ideal bukan manusia tanpa kekuatan
Dalam Al-Qur’an, manusia ditempatkan pada posisi yang memiliki tanggung jawab besar. Allah menyebut manusia sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah 2:30), sementara kehidupan manusia juga ditempatkan dalam kerangka amanah dan pertanggungjawaban.
Ini memberi kita sebuah pemahaman penting:
manusia tidak hanya diberi kemampuan; manusia juga diberi tanggung jawab atas penggunaan kemampuan itu.
Seseorang boleh memiliki kecerdasan.
Tetapi kecerdasan harus memiliki hikmah.
Seseorang boleh memiliki kekayaan.
Tetapi kekayaan harus memiliki amanah.
Seseorang boleh memiliki kekuasaan.
Tetapi kekuasaan harus memiliki keadilan.
Seseorang boleh memiliki keberanian.
Tetapi keberanian harus memiliki kendali.
Maka manusia ideal bukan manusia yang tidak memiliki kekuatan, ambisi, keinginan, atau ego.
Ia adalah manusia yang mampu menempatkan kekuatan-kekuatan tersebut di bawah kendali akal, moral, dan tujuan yang lebih tinggi.
Al-Ghazali: manusia harus menguasai dirinya sebelum menguasai dunia
Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberikan salah satu kerangka yang sangat kuat tentang persoalan ini.
Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, ia membahas berbagai daya dalam diri manusia—akal, amarah, syahwat, dan kecenderungan-kecenderungan jiwa lainnya.
Masalahnya bukan karena manusia memiliki amarah atau keinginan.
Masalahnya muncul ketika kekuatan tersebut mengambil alih kendali atas manusia.
Amarah yang terkendali dapat menjadi keberanian.
Amarah yang tidak terkendali menjadi kekerasan.
Keinginan yang terkendali dapat menjadi energi untuk bekerja dan membangun.
Keinginan yang tidak terkendali menjadi kerakusan.
Kekayaan yang dikendalikan oleh nilai dapat menjadi alat kemanfaatan.
Kekayaan yang mengendalikan manusia dapat menjadi sumber kesombongan dan eksploitasi.
Dengan demikian, kualitas manusia bukan ditentukan hanya oleh berapa banyak kemampuan yang ia miliki, tetapi oleh siapa yang memimpin kemampuan tersebut.
Manusia yang tidak mampu menguasai dirinya akan mudah menyalahgunakan apa pun yang berhasil dikuasainya.
Ibn ‘Arabi dan gagasan Insān Kāmil
Pemikiran Ibn ‘Arabi membawa pertanyaan ini ke tingkat yang lebih dalam melalui gagasan al-insān al-kāmil—manusia yang sempurna atau utuh.
Dalam kerangka ini, manusia memiliki kemampuan untuk merefleksikan berbagai sifat luhur: ilmu, hikmah, keadilan, kasih sayang, kemurahan, dan kualitas-kualitas kebajikan lainnya.
Karena itu, kesempurnaan manusia bukan sekadar memiliki satu kualitas dalam kadar tinggi.
Orang yang sangat cerdas belum tentu bijaksana.
Orang yang sangat kuat belum tentu adil.
Orang yang sangat kaya belum tentu dermawan.
Orang yang sangat berani belum tentu benar.
Kesempurnaan menuntut integrasi.
Ilmu bertemu hikmah.
Kekuatan bertemu keadilan.
Kebebasan bertemu tanggung jawab.
Keberhasilan bertemu kerendahan hati.
Dan kemampuan bertemu manfaat.
Di sinilah manusia mulai menjadi utuh.
Sebaliknya: manusia perusak tidak selalu tampak jahat
Ini bagian yang sering kita lewatkan.
Manusia perusak tidak selalu berupa orang yang kasar, bodoh, atau terang-terangan jahat.
Ia bisa sangat pintar.
Bisa sangat sukses.
Bisa sangat karismatik.
Bisa memiliki jabatan tinggi.
Bahkan bisa merasa bahwa dirinya sedang melakukan sesuatu yang benar.
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat menarik:
“Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi,” tetapi mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”
(QS. Al-Baqarah 2:11–12)
Lalu Al-Qur’an menegaskan bahwa justru merekalah yang membuat kerusakan, “tetapi mereka tidak menyadari.”
Ini adalah peringatan yang sangat relevan bagi manusia modern.
Karena salah satu bentuk kerusakan paling berbahaya adalah:
kerusakan yang tidak disadari oleh pelakunya sendiri.
Pemimpin yang merasa sedang menjaga perusahaan, tetapi sebenarnya membunuh keberanian bawahannya.
Pemilik yang merasa sedang mengendalikan bisnis, tetapi sebenarnya menciptakan ketergantungan.
Orang yang merasa sedang mempertahankan loyalitas, tetapi sebenarnya sedang membangun budaya takut.
Kelompok yang merasa sedang membela kebenaran, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk mendengar pihak lain.
Ketika kekuatan melewati batas, ia berubah menjadi ancaman
Di sinilah konsep mizan dalam Al-Qur’an menjadi sangat menarik.
Allah berfirman:
“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan melampaui batas dalam keseimbangan itu.”
(QS. Ar-Rahman 55:7–8)
Keseimbangan bukan berarti kelemahan.
Keseimbangan berarti kekuatan berada dalam batas yang membuatnya tetap bermanfaat.
Kepercayaan diri yang berlebihan menjadi kesombongan.
Kontrol yang berlebihan menjadi micromanagement.
Loyalitas yang berlebihan menjadi fanatisme.
Ambisi yang berlebihan menjadi keserakahan.
Kekuasaan yang berlebihan menjadi tirani.
Pertumbuhan yang berlebihan tanpa sistem menjadi kekacauan.
Karena itu, sesuatu yang awalnya menjadi kekuatan, ketika melewati batas tertentu dapat berubah menjadi sumber kehancuran.
Perusahaan adalah cermin manusia
Sekarang kita sampai pada dunia bisnis.
Kita sering membicarakan perusahaan seolah-olah ia adalah mesin:
strategi + modal + teknologi + sistem = pertumbuhan.
Padahal perusahaan juga merupakan organisme sosial.
Ia membawa karakter orang-orang yang menjalankannya.
Pemimpin yang tidak mampu menerima kritik akan membangun organisasi yang takut berbicara.
Pemimpin yang manipulatif akan melahirkan politik internal.
Pemimpin yang hanya mengejar angka akan membuat manusia diperlakukan sebagai angka.
Pemimpin yang amanah akan membangun kepercayaan.
Pemimpin yang mau belajar akan membangun organisasi yang adaptif.
Dan pemimpin yang mampu melepaskan ketergantungan pada dirinya akan membangun institusi yang lebih kuat daripada dirinya sendiri.
Maka perusahaan yang sehat bukan hanya perusahaan yang menghasilkan laba.
Ia adalah perusahaan yang mampu menghasilkan nilai tanpa menghancurkan manusia yang ada di dalamnya.
Ukuran manusia bukan seberapa besar dirinya
Mungkin kita terlalu lama menggunakan ukuran yang salah.
Kita bertanya:
Seberapa kaya dia?
Seberapa tinggi jabatannya?
Seberapa besar perusahaannya?
Berapa banyak orang yang mengikutinya?
Padahal ada pertanyaan yang lebih dalam:
“Apa yang terjadi pada kehidupan orang lain ketika kekuatan berada di tangan orang ini?”
Apakah orang-orang di sekitarnya menjadi lebih berani?
Lebih mandiri?
Lebih jujur?
Lebih mampu?
Lebih bermartabat?
Lebih bermanfaat?
Atau justru:
lebih takut, lebih bergantung, lebih kecil, dan kehilangan keberanian untuk berpikir?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin jauh lebih jujur dalam mengukur kualitas seorang manusia.
Dari manusia menuju peradaban
Pada akhirnya, rantainya sederhana:
Manusia → karakter → kekuatan → kepemimpinan → organisasi → masyarakat → peradaban.
Jika manusia matang, kekuatan dapat menjadi alat pembangunan.
Jika manusia tidak matang, kekuatan menjadi alat penghancuran.
Jika pemimpin memiliki integritas, organisasi memiliki kesempatan untuk menjadi sehat.
Jika pemimpin dikuasai ego, organisasi perlahan akan mengikuti penyakit yang sama.
Karena itu, memperbaiki perusahaan tidak cukup hanya dengan memperbaiki SOP.
Memperbaiki organisasi tidak cukup hanya dengan mengubah struktur.
Memperbaiki masyarakat tidak cukup hanya dengan membuat aturan.
Kita harus bertanya lebih dalam:
Manusia macam apa yang sedang kita bentuk?
Manusia adalah proyek terbesar
Mungkin inilah proyek terbesar yang sering kita lupakan.
Bukan membangun gedung.
Bukan membangun perusahaan.
Bukan membangun kekayaan.
Tetapi membangun manusia yang mampu memegang semua itu tanpa kehilangan dirinya.
Manusia yang mengenal dirinya.
Manusia yang mampu mengendalikan dirinya.
Manusia yang mau terus belajar.
Manusia yang mampu menerima koreksi.
Manusia yang kuat tetapi tidak menindas.
Manusia yang kaya tetapi tidak diperbudak kekayaan.
Manusia yang berkuasa tetapi tetap merasa dirinya sebagai pemegang amanah.
Manusia yang berhasil tetapi keberhasilannya membuat orang lain ikut bertumbuh.
Itulah manusia yang bukan hanya besar, tetapi utuh.
Dan mungkin pada akhirnya:
Peradaban tidak pertama-tama dibangun oleh sistem. Sistem dibangun oleh manusia.
Karena itu, jika kita ingin membangun perusahaan yang sehat, masyarakat yang kuat, dan peradaban yang baik, kita harus mulai dari tempat yang paling dasar: membangun manusia.
