PERUSAHAAN YANG SEMUA ORANGNYA “BAIK” BISA JADI SANGAT TIDAK SEHAT

Tidak ada yang marah. Tidak ada yang ribut. Semua tersenyum. Semua bilang “siap”. Lalu perusahaan perlahan-lahan membusuk.

Ini mungkin salah satu penyakit organisasi yang paling sulit dideteksi.

Karena dari luar terlihat baik-baik saja.

Orang-orang ramah.

Tidak ada konflik terbuka.

Meeting berlangsung tenang.

Semua saling menyapa.

Atasan tidak pernah membentak.

Karyawan tidak pernah membantah.

Kalau ditanya:

“Ada masalah?”

Jawabannya hampir selalu:

“Tidak ada, Pak.”

Aman.

Damai.

Tentram.

Lalu beberapa bulan kemudian:

sales turun.

Orang bagus mulai pergi.

Customer mulai mengeluh.

Keputusan lambat.

Masalah yang sama muncul berulang kali.

Dan owner bingung:

“Padahal tim saya kompak.”

Belum tentu.

Bisa jadi mereka bukan kompak.

Mereka hanya tidak berani bicara.

BUDAYA “ENAK-ENAKAN” BISA MEMBUNUH PERUSAHAAN

Ada perusahaan yang terlalu takut membuat orang tidak nyaman.

Karyawan tidak disiplin?

“Ya sudah, mungkin sedang ada masalah.”

Manager tidak mencapai target?

“Kita kasih kesempatan lagi.”

Orang yang sama melakukan kesalahan berkali-kali?

“Jangan terlalu keras.”

Karyawan yang performanya buruk dipertahankan?

“Kasihan, sudah lama.”

Orang yang bagus mulai frustrasi?

“Jangan sampai suasana tim rusak.”

Semua terdengar manusiawi.

Bahkan terdengar baik.

Tetapi ada satu pertanyaan:

Baik untuk siapa?

Karena setiap kali perusahaan membiarkan orang yang tidak bertanggung jawab,

orang yang bertanggung jawab ikut membayar harganya.

ADA KARYAWAN YANG SANGAT SOPAN

Datang tepat waktu.

Senyum.

Tidak pernah membantah.

Kalau diberi tugas:

“Siap, Pak.”

Ditanya pendapat:

“Terserah Bapak.”

Ada masalah:

“Baik, Pak.”

Meeting:

“Saya setuju.”

Owner senang.

“Ini karyawan bagus. Tidak pernah macam-macam.”

Benarkah?

Atau mungkin dia sudah menemukan strategi paling aman untuk bertahan:

Jangan bicara terlalu banyak.

Karena di perusahaan itu orang yang bicara sering dianggap pembangkang.

Orang yang bertanya dianggap tidak loyal.

Orang yang berbeda pendapat dianggap sulit diatur.

Orang yang mengkritik dianggap negatif.

Akhirnya semua belajar satu hal:

Diam adalah cara paling aman untuk tetap bekerja.

ORGANISASI YANG SEHAT BUKAN ORGANISASI TANPA KONFLIK

Ini penting.

Konflik tidak selalu buruk.

Perbedaan pendapat juga tidak selalu buruk.

Bahkan kadang sangat diperlukan.

Marketing berkata:

“Produk ini harus segera diluncurkan.”

Finance berkata:

“Cashflow belum memungkinkan.”

Sales berkata:

“Customer tidak menginginkan fitur itu.”

Produksi berkata:

“Kapasitas kita belum cukup.”

Owner mungkin tidak suka mendengarnya.

Tetapi kalau semua orang diam karena takut,

perusahaan kehilangan sesuatu yang sangat mahal:

kenyataan.

Dan perusahaan yang tidak mau mendengar kenyataan akan mengambil keputusan berdasarkan apa?

Perasaan.

JANGAN SAMAKAN “TIDAK ADA KONFLIK” DENGAN “KOMPAK”

Tim yang kompak bukan berarti semua orang selalu setuju.

Tim yang kompak adalah tim yang:

boleh berbeda pendapat,

berani mengatakan masalah,

mau mendengar orang lain,

berdebat tentang masalah,

dan setelah keputusan dibuat:

bersama-sama menjalankannya.

Itu jauh lebih sehat.

Daripada semua orang berkata:

“Setuju, Pak.”

Kemudian keluar ruangan dan berkata:

“Sebenarnya saya tidak setuju.”

Nah.

Itu bukan harmoni.

Itu dua wajah.

KALIMAT PALING BERBAHAYA DALAM PERUSAHAAN:

“Sudah, jangan diperpanjang.”

Kadang memang harus berhenti.

Tetapi kalau kalimat ini dipakai setiap kali ada masalah,

lama-lama masalah tidak pernah selesai.

Customer komplain?

“Sudah, jangan diperpanjang.”

Karyawan bermasalah?

“Sudah, jangan diperpanjang.”

Manager gagal?

“Sudah, kasih kesempatan.”

Proyek rugi?

“Sudah, jangan dibahas lagi.”

Akhirnya perusahaan menjadi sangat ahli dalam satu hal:

menyimpan masalah.

Dan masalah yang disimpan tidak hilang.

Ia hanya menunggu waktu.

MASALAH KECIL YANG TIDAK BOLEH DIBICARAKAN AKAN MENJADI MASALAH BESAR

Karyawan melihat rekannya malas.

Tidak ditegur.

Karyawan lain melihat.

Diam.

Manager tahu.

Diam.

Owner tahu.

Diam.

Akhirnya muncul budaya:

“Di sini memang begitu.”

Satu orang tidak disiplin.

Lalu dua.

Lalu lima.

Lalu menjadi kebiasaan.

Kemudian perusahaan membuat training disiplin.

Lucu.

Perusahaan sedang mengadakan training untuk masalah yang sebenarnya sudah diketahui tetapi terlalu lama dibiarkan.

ORANG BAGUS TIDAK SELALU PERGI KARENA GAJI

Ini juga perlu diperhatikan.

Kadang orang bagus pergi bukan karena perusahaan membayar terlalu sedikit.

Mereka pergi karena:

kerjanya tidak dihargai,

orang yang malas diperlakukan sama,

orang yang berprestasi tidak diberi ruang,

atasan tidak mau mendengar,

keputusan tidak adil,

atau

mereka merasa tidak bisa berkembang.

Bayangkan seseorang bekerja keras.

Ia mencapai target.

Ia membantu tim.

Ia menyelesaikan masalah.

Kemudian ia melihat orang lain:

sering terlambat,

target tidak tercapai,

banyak alasan,

tetapi tetap mendapatkan perlakuan yang sama.

Apa yang akan ia pikirkan?

“Kalau begitu, buat apa saya bekerja lebih keras?”

Ini titik awal rusaknya moral tim.

KEADILAN LEBIH PENTING DARIPADA KEBAIKAN

Pemimpin sering ingin menjadi orang baik.

Tidak ingin memecat.

Tidak ingin menegur.

Tidak ingin membuat orang sedih.

Tetapi pemimpin bukan ditugaskan untuk membuat semua orang senang.

Pemimpin ditugaskan menjaga perusahaan tetap sehat.

Kadang keputusan yang benar memang tidak menyenangkan.

Menegur orang.

Mengurangi kewenangan.

Mengubah posisi.

Tidak memberikan bonus.

Bahkan memutus hubungan kerja.

Bukan karena pemimpin jahat.

Tetapi karena ada tanggung jawab yang lebih besar.

Membiarkan satu orang terus merusak tim juga merupakan ketidakadilan kepada orang-orang yang bekerja dengan benar.

“KITA INI KELUARGA”

Kalimat ini bagus.

Tetapi hati-hati.

Perusahaan bukan keluarga.

Perusahaan adalah organisasi profesional.

Dalam keluarga:

orang tua tetap merawat anak meskipun anak gagal.

Di perusahaan:

orang tetap harus bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Dalam keluarga:

kita bisa memaklumi kesalahan berulang.

Dalam perusahaan:

kesalahan berulang harus dicari penyebab dan diperbaiki.

Dalam keluarga:

hubungan darah tidak bisa diputus.

Dalam perusahaan:

posisi kerja bisa berubah.

Karena itu:

Jadilah manusiawi tanpa menjadi tidak profesional.

Perusahaan boleh hangat.

Boleh peduli.

Boleh memperhatikan kehidupan karyawan.

Tetapi tetap harus punya:

standar,

target,

aturan,

konsekuensi,

dan akuntabilitas.

PEMIMPIN YANG BAIK HARUS BISA MENGATAKAN “TIDAK”

Tidak kepada:

orang yang tidak perform.

Tidak kepada:

kebiasaan buruk.

Tidak kepada:

alasan yang terus berulang.

Tidak kepada:

keputusan yang merugikan perusahaan.

Tidak kepada:

budaya “yang penting nyaman”.

Karena kalau pemimpin tidak bisa berkata tidak,

orang lain akan menentukan arah perusahaan.

Dan biasanya bukan orang terbaik yang paling cepat menentukan arah.

Yang paling berisik.

JANGAN MEMBANGUN BUDAYA TAKUT

Sekarang jangan salah paham.

Solusinya bukan membuat semua orang takut.

Pemimpin yang suka membentak juga tidak sehat.

Kalau orang takut:

mereka menyembunyikan kesalahan,

menyembunyikan masalah,

memalsukan laporan,

dan hanya mengatakan apa yang ingin didengar atasan.

Itu sama bahayanya.

Maka perusahaan harus menghindari dua ekstrem:

TERLALU KERAS

Orang takut bicara.

TERLALU LEMBEK

Orang tidak takut berbuat salah.

Yang dibutuhkan:

TEGAS TERHADAP STANDAR, MANUSIAWI TERHADAP MANUSIA.

Itulah keseimbangan.

BUDAYA SEHAT PUNYA SATU CIRI

Orang boleh mengatakan:

“Saya tidak setuju.”

Tanpa takut.

Tetapi setelah keputusan dibuat:

“Baik, saya jalankan.”

Orang boleh mengatakan:

“Pak, proses ini tidak masuk akal.”

Dan pemimpin menjawab:

“Tunjukkan masalahnya.”

Bukan:

“Kamu jangan mengajari saya.”

Orang boleh mengakui:

“Saya salah.”

Dan respons perusahaan:

“Baik. Apa yang kita pelajari?”

Bukan langsung:

“Siapa yang harus disalahkan?”

Di situlah organisasi mulai dewasa.

SATIRE PALING BESAR: SEMUA ORANG BAIK, TAPI TARGET TIDAK TERCAPAI

Ada perusahaan yang bisa membuat laporan budaya kerja yang sangat indah.

Nilai perusahaan:

integritas.

kolaborasi.

respect.

family.

excellence.

Semua bagus.

Poster ditempel di dinding.

Tetapi ketika diperiksa:

target tidak tercapai,

customer pergi,

biaya membengkak,

orang terbaik keluar,

keputusan lambat.

Apa gunanya?

Budaya bukan apa yang tertulis di dinding.

Budaya adalah:

apa yang benar-benar terjadi ketika tidak ada yang mengawasi.

MAKA, JANGAN HANYA TANYAKAN:

“Apakah karyawan kita bahagia?”

Pertanyaan itu penting.

Tetapi tidak cukup.

Tanyakan juga:

“Apakah mereka bertanggung jawab?”

“Apakah mereka berani bicara?”

“Apakah mereka berani mengatakan ada masalah?”

“Apakah orang yang berkinerja baik dihargai?”

“Apakah orang yang terus-menerus tidak berkinerja ditangani?”

“Apakah keputusan dibuat berdasarkan fakta atau karena takut membuat orang tidak nyaman?”

Ini baru pemeriksaan budaya.

PERUSAHAAN SEHAT TIDAK SELALU TERLIHAT NYAMAN

Kadang meeting-nya panas.

Ada perdebatan.

Ada orang mengatakan:

“Saya tidak setuju.”

Ada manager yang ditegur.

Ada target yang dikoreksi.

Ada keputusan yang tidak disukai.

Ada orang yang harus belajar lagi.

Ada orang yang akhirnya harus keluar.

Tetapi setelah itu:

pekerjaan menjadi lebih baik.

Itu jauh lebih sehat daripada perusahaan yang semua orang tersenyum,

tetapi masalah tidak pernah dibicarakan.

PEMIMPIN HARUS MEMILIH:

MAU DISUKAI ATAU MAU MEMBANGUN PERUSAHAAN?

Idealnya tentu keduanya.

Tetapi ketika harus memilih antara:

disukai hari ini

dan

menyelamatkan perusahaan untuk lima tahun ke depan,

pemimpin harus berani memilih yang kedua.

Karena menjadi pemimpin bukan lomba popularitas.

Pemimpin dibayar untuk menjaga arah.

Kadang dengan mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar.

TOTAL COACHING BUKAN MEMBUAT SEMUA ORANG NYAMAN

Dalam coaching, kadang pertanyaan yang paling berguna justru yang membuat orang tidak nyaman.

“Kenapa masalah ini terus terjadi?”

“Apa yang sebenarnya Anda hindari?”

“Siapa yang seharusnya bertanggung jawab?”

“Apa yang selama ini Anda biarkan?”

“Apa yang Anda tahu tetapi tidak berani Anda tindak?”

Pertanyaan seperti itu mungkin tidak nyaman.

Tetapi perubahan sering dimulai dari sana.

Karena selama perusahaan hanya membicarakan hal-hal yang nyaman,

perusahaan hanya akan mempertahankan masalah yang sama dengan bahasa yang lebih sopan.

BUSINESS PUNCHLINE

Jangan bangga kalau semua orang di perusahaan Anda selalu berkata:

“Siap, Pak.”

Pastikan mereka juga berani berkata:

“Pak, saya tidak setuju.”

Karena orang yang selalu setuju belum tentu loyal.

Bisa jadi dia hanya takut.

Dan orang yang berani berbeda pendapat belum tentu pembangkang.

Bisa jadi justru dialah orang yang sedang menjaga perusahaan Anda.

Perusahaan yang sehat bukan perusahaan yang tidak punya konflik.

Perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang mampu mengubah perbedaan menjadi keputusan, kesalahan menjadi pembelajaran, dan masalah menjadi perbaikan.

Jadi jangan cari perusahaan yang semua orangnya “baik”.

Cari perusahaan yang orang-orangnya berani jujur, mau bertanggung jawab, dan tetap saling menghormati ketika harus mengatakan sesuatu yang tidak enak.

Karena:

terlalu banyak kenyamanan bisa membunuh keberanian.

Dan tanpa keberanian,

tidak ada perusahaan yang benar-benar bisa bertumbuh.

TOTAL COACHING — IBD

Kami membantu perusahaan membangun budaya yang bukan sekadar:

ramah,

nyaman,

dan harmonis.

Tetapi juga:

jujur,

tegas,

bertanggung jawab,

terbuka terhadap kritik,

dan berorientasi pada hasil.

Manusiawi tanpa kehilangan standar.

Tegas tanpa kehilangan rasa hormat.

Terbuka tanpa kehilangan arah.

Karena perusahaan yang sehat bukan tempat semua orang selalu nyaman.

Perusahaan yang sehat adalah tempat orang bisa tumbuh menjadi lebih baik.