Kalau semua hal masih menunggu Anda, mungkin yang Anda bangun bukan perusahaan. Anda sedang membangun pekerjaan untuk diri sendiri.
Jam 7 pagi sudah di kantor.
Jam 10 sudah tiga kali telepon supplier.
Siang cek penjualan.
Sore marahi kepala toko.
Malam transfer pembayaran.
Jam 11 malam masih membalas WhatsApp karyawan.
Besok pagi?
Ulangi lagi.
Lalu ketika orang bertanya:
“Pak, kok kelihatannya sibuk sekali?”
Owner tersenyum bangga.
“Namanya juga pengusaha.”
Benar.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting:
Kalau Anda berhenti bekerja selama satu bulan, apa perusahaan masih berjalan?
Kalau jawabannya:
“Wah, ya tidak bisa.”
Maka ada kemungkinan yang sedang Anda bangun bukan perusahaan.
Anda sedang menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri.
OWNER PALING SIBUK SERING MENJADI ORANG PALING PENTING
Ada owner yang bangga karena semua orang mencarinya.
Sales bertanya kepadanya.
Gudang bertanya kepadanya.
Keuangan bertanya kepadanya.
HR bertanya kepadanya.
Customer komplain kepadanya.
Supplier meneleponnya.
Bahkan urusan beli tinta printer pun menunggu keputusan owner.
Kalau sehari saja owner tidak datang:
“Wah, kacau.”
Lalu owner merasa:
“Berarti saya penting.”
Betul. Anda penting.
Tapi ada perbedaan antara penting dan dibutuhkan untuk segala hal.
Kalau semua keputusan harus melewati Anda, sebenarnya ada masalah.
Bukan karena Anda terlalu hebat.
Bisa jadi karena perusahaan Anda belum belajar berjalan sendiri.
OWNER YANG TERLALU BANYAK TURUN TANGAN
Awalnya memang terasa hebat.
Karyawan salah sedikit, owner langsung turun.
Sales tidak closing, owner ikut menelepon.
Customer komplain, owner mengambil alih.
Stok salah, owner ikut menghitung.
Manager tidak berani mengambil keputusan, owner langsung memutuskan.
Masalah selesai.
Besok terjadi lagi.
Owner turun lagi.
Selesai lagi.
Terjadi lagi.
Akhirnya terbentuk sebuah sistem yang sangat aneh:
Semua orang bekerja.
Tetapi owner yang berpikir.
Semua orang punya jabatan.
Tetapi keputusan tetap di satu orang.
Semua orang punya tanggung jawab.
Tetapi ketika ada masalah:
“Tanya Pak Bos.”
Lama-lama karyawan tidak lagi berpikir:
“Apa keputusan terbaik?”
Mereka berpikir:
“Bos maunya apa?”
Dan itu jauh lebih berbahaya.
KARYAWAN BISA MENJADI MANJA KARENA OWNER TERLALU HEBAT
Ini ironi yang sering tidak disadari.
Owner ingin karyawannya mandiri.
Tetapi setiap kali karyawan mengambil keputusan, owner koreksi.
Owner ingin manager bertanggung jawab.
Tetapi ketika manager mengambil keputusan, owner ambil alih.
Owner ingin tim punya inisiatif.
Tetapi ketika tim punya ide, owner mengatakan:
“Sudah, saya lebih tahu.”
Akhirnya karyawan belajar satu hal:
Jangan terlalu banyak berpikir. Tunggu bos.
Kemudian owner mengeluh:
“Kenapa orang-orang saya tidak punya inisiatif?”
Ya…
karena setiap inisiatif mereka Anda matikan.
OWNER SERING MENGELUH TIDAK PUNYA WAKTU
Tidak punya waktu membaca laporan.
Tidak punya waktu memikirkan strategi.
Tidak punya waktu mencari pasar baru.
Tidak punya waktu mengembangkan produk.
Tidak punya waktu membangun manager.
Tidak punya waktu membangun sistem.
Tidak punya waktu memikirkan masa depan.
Tetapi punya waktu:
mengecek CCTV,
menanyakan omzet hari ini,
mengecek siapa yang terlambat,
memarahi sales,
mengecek stok,
membalas komplain,
dan ikut menyelesaikan masalah kecil.
Ini bukan karena owner tidak bekerja keras.
Justru sebaliknya.
Owner bekerja terlalu keras pada pekerjaan yang seharusnya sudah bisa dikerjakan orang lain.
DARI PEKERJAAN KE PEMBANGUNAN PERUSAHAAN
Ada masa ketika owner memang harus mengerjakan semuanya.
Saat perusahaan masih kecil, owner menjual.
Owner membeli.
Owner mengantar.
Owner menagih.
Owner melayani.
Owner mencatat uang.
Tidak masalah.
Itu fase bertahan hidup.
Masalah muncul ketika perusahaan sudah tumbuh tetapi cara kerja owner tidak ikut tumbuh.
Omzet sudah besar.
Karyawan sudah puluhan.
Cabang sudah beberapa.
Tetapi owner masih bekerja seperti ketika perusahaan baru mulai.
Akhirnya perusahaan tumbuh secara fisik.
Tetapi tidak tumbuh secara organisasi.
NAIK KELAS BUKAN BERARTI OWNER BEKERJA LEBIH KERAS
Ini salah satu kesalahan paling mahal dalam bisnis.
Ketika omzet naik, owner menambah jam kerja.
Ketika cabang bertambah, owner menambah WhatsApp group.
Ketika karyawan bertambah, owner menambah meeting.
Ketika masalah bertambah, owner semakin sering turun tangan.
Padahal seharusnya yang bertambah adalah:
sistem,
orang yang mampu mengambil keputusan,
manager,
standar kerja,
informasi,
dan kemampuan organisasi untuk berjalan tanpa owner.
Kalau perusahaan bertambah besar tetapi ketergantungannya kepada owner juga bertambah besar, itu bukan pertumbuhan yang sehat.
Itu ketergantungan yang sedang membesar.
ADA SATU TES SEDERHANA
Coba owner pergi.
Bukan satu hari.
Tiga puluh hari.
Tidak ikut operasional.
Tidak menjawab semua WhatsApp.
Tidak ikut menyelesaikan masalah harian.
Tidak ikut menentukan keputusan kecil.
Lalu lihat.
Apa yang terjadi?
Kalau perusahaan tetap berjalan:
selamat.
Anda mulai memiliki perusahaan.
Kalau perusahaan langsung kacau:
jangan salahkan karyawan.
Itu mungkin tanda bahwa selama ini perusahaan terlalu bergantung kepada Anda.
Dan itu bukan sekadar masalah karyawan.
Itu masalah desain perusahaan.
TUGAS OWNER SEBENARNYA APA?
Semakin besar perusahaan, pekerjaan owner seharusnya semakin sedikit dalam urusan operasional harian.
Bukan karena owner malas.
Tetapi karena pekerjaannya berubah.
Dulu:
Mengerjakan.
Kemudian:
Mengatur.
Lalu:
Membangun sistem.
Kemudian:
Membangun orang.
Dan akhirnya:
Menentukan arah.
Owner yang matang tidak sibuk bertanya:
“Siapa yang melakukan kesalahan?”
Ia bertanya:
“Mengapa sistem kita memungkinkan kesalahan ini terjadi?”
Tidak sibuk memikirkan:
“Bagaimana saya menyelesaikan masalah ini?”
Tetapi:
“Bagaimana supaya masalah seperti ini tidak selalu kembali kepada saya?”
Itulah pergeseran besar dalam perjalanan seorang owner.
PERUSAHAAN BESAR BUKAN PERUSAHAAN YANG OWNER-NYA PALING HEBAT
Perusahaan besar adalah perusahaan yang kemampuannya tidak berhenti pada satu orang.
Owner boleh hebat.
Tetapi manager juga harus mampu.
Manager boleh hebat.
Tetapi supervisor juga harus mampu.
Supervisor boleh hebat.
Tetapi sistem harus tetap berjalan.
Karena tujuan membangun perusahaan bukan membuat semua orang kagum kepada owner.
Tujuannya adalah membuat perusahaan mampu menciptakan nilai secara konsisten.
Bahkan ketika owner sedang tidak berada di ruangan.
Bahkan ketika owner sedang libur.
Bahkan suatu hari ketika owner sudah tidak lagi mengurus operasional.
DAN DI SINILAH COACHING MENJADI PENTING
Owner sering tidak membutuhkan orang yang memberi tahu:
“Anda harus lebih rajin.”
Mereka sudah rajin.
Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang membantu mereka melihat:
Apa yang masih mereka pegang?
Apa yang seharusnya sudah didelegasikan?
Mengapa manager belum mandiri?
Keputusan apa yang terlalu sering kembali kepada owner?
Sistem apa yang belum terbentuk?
Orang seperti apa yang perlu dibangun?
Karena kadang masalah terbesar seorang owner bukan kekurangan kemampuan.
Tetapi ketidakmampuan melepaskan pekerjaan yang sebenarnya sudah bukan pekerjaannya.
PERTANYAAN UNTUK OWNER
Besok pagi, jangan hanya bertanya:
“Omzet berapa?”
Coba tanyakan lima hal ini:
- Apa yang masih harus saya putuskan sendiri?
- Apa yang sebenarnya sudah bisa diputuskan manager?
- Masalah apa yang selalu kembali kepada saya?
- Siapa orang yang sedang saya siapkan untuk menggantikan fungsi saya?
- Kalau saya pergi 30 hari, apa yang paling mungkin kacau?
Jawaban Anda mungkin lebih berguna daripada satu seminar motivasi.
BUSINESS PUNCHLINE
Owner yang baik membangun bisnis.
Owner yang hebat membangun bisnis yang tidak selamanya membutuhkan dirinya.
Jadi jangan terlalu bangga kalau setiap orang di perusahaan mencari Anda.
Suatu hari nanti,
prestasi terbesar Anda bukan ketika semua orang mencari Anda.
Prestasi terbesar Anda adalah ketika perusahaan tetap berjalan meskipun mereka tidak perlu mencari Anda.
TOTAL COACHING — IBD
Dari owner yang sibuk
menjadi owner yang strategis.
Dari perusahaan yang bergantung pada orang
menjadi perusahaan yang berjalan dengan sistem.
Kami tidak sekadar membantu owner bekerja lebih baik.
Kami membantu owner membangun perusahaan yang mampu berjalan lebih baik.
